Misteri Tanah Punt

ekspedisi maritim mencari emas dan kemenyan eksotis

Misteri Tanah Punt
I

Pernahkah kita merasa begitu terobsesi mencari sesuatu yang tidak jelas keberadaannya? Mungkin kita rela memutar-mutar jalan kota hanya untuk mencari warung kopi hidden gem tanpa alamat pasti di peta. Ternyata, kelakuan semacam ini bukanlah hal baru. Ini sudah berurat akar dalam DNA kita sejak ribuan tahun lalu. Mari kita mundur sejenak ke zaman Mesir Kuno. Firaun-firaun yang berkuasa, dengan segala harta, pasukan, dan pengetahuan mereka, ternyata memiliki satu obsesi besar: sebuah tempat misterius bernama Tanah Punt. Mereka dengan penuh hormat menyebutnya sebagai "Tanah Para Dewa". Tapi ada satu masalah kecil yang sangat mengganjal. Tidak ada satu pun orang di masa modern yang tahu pasti di mana letak Tanah Punt ini. Tempat ini seolah lenyap ditelan mitos.

II

Untuk memahami kenapa Tanah Punt begitu penting, kita perlu membedah sedikit sisi psikologi manusia purba. Sebenarnya, otak mereka tidak berbeda jauh dengan otak kita. Otak manusia berevolusi untuk selalu menyukai kebaruan atau novelty. Kita suka hal-hal yang langka. Bagi bangsa Mesir Kuno, Tanah Punt adalah sumber utama dari hal-hal eksotis yang membanjiri otak mereka dengan dopamin. Di sanalah letak surga bagi frankincense (kemenyan Arab) dan myrrh (mur). Dua getah pohon ini sangat sakral untuk ritual keagamaan, pewangi kuil, dan bahan utama pembalseman mumi. Tanpa kemenyan dari Punt, tiket mereka menuju akhirat terasa kurang lengkap. Selain itu, Punt juga menawarkan gading gajah, kayu hitam, emas, dan hewan-hewan eksotis peliharaan raja seperti babun dan macan tutul. Masalahnya, perjalanan ke Punt bukanlah liburan akhir pekan. Ini adalah ekspedisi maritim yang brutal. Membangun kapal kayu besar, menembus ombak Laut Merah yang ganas, melawan badai, dan bertahan dari kelaparan adalah bukti betapa nekatnya manusia saat sudah didorong oleh hasrat dan rasa penasaran.

III

Dari sekian banyak ekspedisi, catatan yang paling epik datang dari Firaun perempuan yang sangat brilian, Hatshepsut, sekitar tahun 1470 Sebelum Masehi. Jika kita berkunjung ke kuilnya di Deir el-Bahari, kita akan menemukan relief dinding yang luar biasa detail. Relief ini layaknya vlog perjalanan atau travel documentary di zaman perunggu. Di sana tergambar armada kapal Hatshepsut yang sedang berlayar pulang membawa pohon kemenyan yang masih hidup di dalam pot, tumpukan emas, dan monyet-monyet babun yang asyik berkeliaran di geladak kapal. Sungguh pemandangan yang fantastis. Namun, di balik detail yang kaya itu, tulisan hieroglif di dinding tersebut tidak pernah menyebutkan koordinat geografisnya. Para sejarawan dan arkeolog pun pusing tujuh keliling selama berabad-abad. Di mana tepatnya Tanah Punt? Apakah di semenanjung Arab seperti Yaman? Atau di ujung tanduk Afrika seperti Somalia? Atau mungkin Sudan? Banyak teori bermunculan, namun tidak ada bukti fisik berupa reruntuhan kota kuno berlabel "Selamat Datang di Punt". Misteri ini pun perlahan menjadi semacam cold case*, kasus kuno yang seolah mustahil untuk dipecahkan.

IV

Di sinilah sains modern masuk dengan cara yang sangat elegan. Ketika teks sejarah dan peta kuno menemui jalan buntu, para ilmuwan beralih ke alat yang lebih presisi: mikroskop dan laboratorium. Mari kita ingat kembali monyet-monyet babun yang dibawa oleh armada Hatshepsut tadi. Sejarah mencatat bahwa beberapa dari babun itu dipelihara di kuil, lalu dimumikan ketika mati. Ribuan tahun kemudian, para ahli biologi dan ahli kimia memutuskan untuk menginterogasi mumi babun ini. Mereka melakukan analisis isotop strontium pada sisa gigi dan tulang mumi tersebut. Secara sederhana, isotop adalah jejak kimiawi mikroskopis dari makanan dan air yang diserap tubuh saat kita masih hidup. Setiap wilayah geografis di bumi ini punya "sidik jari" isotop tanah yang berbeda-beda. Dan apa hasilnya? Sidik jari kimiawi dari mumi babun Mesir itu sama sekali tidak cocok dengan tanah di Mesir. Namun, ketika dicocokkan dengan wilayah di sekitar Laut Merah, datanya mengunci satu lokasi yang sangat spesifik. Babun-babun itu berasal dari wilayah yang kini menjadi pesisir Eritrea dan bagian timur Ethiopia. Akhirnya, setelah ribuan tahun, teka-teki letak Tanah Punt terkuak. Bukan oleh peta bajak laut yang disembunyikan, melainkan oleh jejak atom di dalam gigi seekor monyet.

V

Memikirkan kembali kisah pencarian Tanah Punt ini rasanya membuat kita sadar akan satu hal yang sangat indah. Kita, sebagai manusia, pada dasarnya adalah penjelajah. Kita digerakkan oleh rasa penasaran yang tak ada habisnya. Nenek moyang kita membangun kapal dan menyeberangi lautan ganas, hanya untuk mencari getah pohon yang harum dan hewan peliharaan dari ujung dunia. Dan ribuan tahun kemudian, rasa penasaran yang sama menggerakkan teman-teman ilmuwan kita untuk meneliti tulang-belulang kuno di laboratorium. Kisah ini adalah bukti nyata bahwa sains murni (hard science) dan kemampuan bercerita manusia selalu bisa berjalan beriringan. Sains tidak hadir untuk membunuh keajaiban sebuah misteri; sains justru memberikannya jawaban yang pantas. Pada akhirnya, ekspedisi ke Tanah Punt adalah cerminan dari diri kita semua. Sebuah pengingat yang hangat bahwa sejauh apa pun kita melangkah untuk mencari sesuatu yang eksotis, kemampuan kita untuk terus bertanya dan berpikir kritis adalah harta karun yang paling berharga.